Terungkap, Pensiunan Tukang Pos Miliki 1.300 Anak di Luar Nikah

0
110

Mungkin terdengar tak masuk akal. Namun, kisah ini benar-benar terjadi. Bahkan, kisahnya pun telah diadaptasi menjadi film dengan judul “Delivery Man.”

Seorang mantan tukang pos berusia 87 tahun terbukti memiliki lebih dari 1.300 anak di luar nikah. Hal ini terungkap setelah seorang penyidik swasta yang disewa oleh keluarga di Tennessee menemukan kebenaran yang mengejutkan tersebut.

Penyidik yang telah mengumpulkan ribuan sampel DNA dan kesaksian selama periode 15 tahun akhirnya membuktikan bahwa pria tersebut adalah ayah dari ribuan anak di luar nikah di wilayah tersebut.

“Kontrasepsi tidak begitu populer pada masa itu,” kata pensiunan tukang pos tersebut membela diri.

“Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar mempercayainya atau berusaha meyakinkan diri mereka sendiri. Tapi saya tidak terlalu ambil pusing,” tambah lansia yang tidak disebutkan namanya itu.

Mengungkap kebenaran

Peneliti swasta Sid Roy tidak pernah membayangkan sebuah petunjuk sederhana berakhir dalam pencarian kebenaran selama 15 tahun.

“Semuanya dimulai pada tahun 2011 ketika dua pria berbeda yang tidak memiliki hubungan mempekerjakan saya untuk mencari ayah kandung mereka. Saya tercengang setelah menyelidiki lebih lanjut ketika menyadari bahwa keduanya berasal dari orang yang sama,” ujar Sid seperti dilansir dari World Daily News Report.

Menurut dia, saat itulah misteri mulai terurai. Saat Sid melacak kesaksian orang-orang lainnya, pengujian DNA menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu orang yang sama.

Tak ada keinginan menuntut

Penyidik swasta itu mengatakan anak-anak dari orang tua tersebut tidak bermaksud untuk mengajukan tuntutan hukum terhadap pria tua tersebut.

“Kebanyakan dari mereka senang setelah mengetahui kisah yang sebenarnya dan tidak menaruh dendam. Ini karena praktik tersebut cukup umum pada masa itu,” aku Sid.

Meski tes DNA dan kesaksian menunjukkan lebih dari 1.300 anak di luar nikah yang dimiliki oleh pensiunan tukang pos itu, Sid yakin masih ada banyak lagi. Sebab, tidak semua orang ingin mengetahui kebenaran atau siap mendengar cerita sebenarnya.