Di Masa Lalu, Wanita Tiongkok Lumrah Punya Dua Suami

0
111

Pada abad ke-18 dan 19 di Tiongkok, dianggap lumrah apabila wanita memiliki lebih dari satu orang suami. Akan tetapi, karena di kemudian hari memiliki lebih dari satu orang suami dianggap sebagai tindakan tak bermoral, hanya ada sedikit catatan sejarah mengenai hal tersebut.

Christopher Sommer, sejarawan dari Universitas Stanford, mengungkap sedikit jejak sejarah tersebut dari struktur keluarga petani di Tiongkok pada masa Dinasti Qing.

Seorang petani bernama Zheng Guoshun hidup bersama istrinya, Jiang Shi, di Provinsi Fujian pada pertengahan 1700-an. Ketika Zheng tiba-tiba menjadi buta, sang istri meminta seorang pria muda bernama Jiang Yilang–yang tak dikenal sebelumnya–untuk hidup bersama pasangan tersebut dengan imbalan seks.

Selama hampir tiga dekade, hubungan di antara ketiganya berjalan baik-baik saja. Saat Zheng meninggal dunia, Jiang Shi dan Jiang Yilang melanjutkan pernikahan mereka.

Alasan Wanita Tiongkok di Masa Lalu Memiliki Lebih dari Satu Suami

Bertolak belakang dengan pria yang mengambil lebih dari satu istri karena masalah seks, tujuan sebenarnya kebanyakan wanita tersebut mengambil dua suami atau lebih adalah untuk melindungi keluarga.

Pada masa itu, kelaparan massal biasa terjadi. Populasi meningkat, padahal lahan pertanian jumlahnya tidak bertambah. Sementara itu, pembunuhan terhadap bayi perempuan pada masa itu masih sering dilakukan. Hal ini menyebabkan jumlah yang tak berimbang antara pria dan wanita.

Melansir dari Quartz, agar satu keluarga bisa bertahan hidup, mereka pun kemudian mencari suami kedua untuk menghasilkan pendapatan tambahan. Dengan cara ini, kedua belah pihak mendapatkan untung.

Pasangan utama mendapatkan tambahan pendapatan, sementara suami kedua bisa mendapat keturunan yang akan merawatnya di hari tua. Banyak dari hubungan ini diformalkan sesuai dengan kebiasaan pernikahan setempat. Kedua suami juga biasanya melakukan sumpah persaudaraan dalam melindungi keluarga mereka.