Perlukah Kita Takut Disaingi oleh Robot Cerdas?

0
30

Mungkin sesekali kita pernah membayangkan, ada robot yang sedang merapikan halaman kita. Kemudian, kita juga tidak perlu repot mencuci piring kotor di dapur karena sudah ada robot yang mengerjakannya.

Namun, sudah siapkah kita dengan kehadiran robot-robot cerdas dalam kehidupan sehari-hari?

Pada Selasa (5/10/2017) di New York, para penulis fiksi ilmiah berdiskusi di acara New York Comic Con (NYCC) mengenai perkembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan (AI) masa depan yang sangat pesat.

Mereka tidak menyangkal bahwa ketakutan akan perkembangan AI yang lebih cerdas daripada manusia begitu nyata di masyarakat. CEO SpaceX dan Tesla, Elon Musk, saja telah berkali-kali memperingatkan mengenai kemunculan “robot pembunuh”

Namun, mereka juga merasa bahwa ketakutan ini tidak berdasar.

Annalee Newitz, seorang penulis sains-ilmiah, berkata bahwa AI diciptakan berdasarkan data yang diciptakan oleh manusia. Oleh karena itu, AI juga akan memiliki kekurangan yang sama dengan manusia dan akan menjadi “sama rusaknya dan gilanya dengan kita”.

Selain itu, meskipun sebuah robot sudah bisa berpikir sendiri, belum tentu mereka akan mengambil alih tugas manusia.

Diilustrasikan dalam novel Newitz yang berjudul Autonomous, robot tetaplah robot yang akan menjadi ‘properti’ manusia, setidaknya hingga masa kerjanya habis atau biaya yang dikeluarkan untuk menciptakannya telah terbayarkan.

“Dalam sejarah manusia, perbudakan selalu ada. Di dunia yang futuristik, hal ini kemungkinan besar akan mencakup robot-robot yang cerdas juga,” katanya.

Meski demikian, para pembicara mengakui bahwa memperkirakan sejauh mana teknologi saat ini akan berpengaruh pada masa depan sangatlah sulit. Pasalnya, dalam banyak kejadian, teknologi seringkali diperkenalkan tanpa mempertimbangkan masa depan.

Kristen Miller, penulis novel Otherworld, memberi contoh, siapa yang bisa menyangka, lima tahun yang lalu, bahwa Facebook yang hanya media sosial bisa memiliki peranan penting dalam pemilihan presiden?

“Saya merasa bahwa kita sedang memasuki ruang yang sangat gelap, mungkin lebih cepat yang kita perkirakan,” katanya.

Bank Utama Jepang Pangkas Sepertiga Tenaga Kerja untuk Diganti Robot

Bank utama Jepang, Mizuho Financial Group, mempertimbangkan untuk mengurangi sekitar sepertiga tenaga kerja globalnya dalam kurun waktu 10 tahun.

Hal itu dilakukan, karena bank tersebut akan menggantikan pekerjaan manusia dengan teknologi.

Mengutip surat kabar Yomiuri menulis, pihak Mizuho mengatakan akan memangkas19.000 pekerjaan dari daftar sekarang, yang akan berdampak pada 60.000 karyawan di Jepang dan luar negeri.

Sementara menurut surat kabar Asahi, pemangkasan tenaga kerja tersebut terjadi seiring penutupan 30 cabang Mizuho di Jepang, dari total sekitar 800 cabang yang ada.

Saat dikonfirmasi oleh AFP, pada Senin (30/10/2017) waktu setempat, juru bicara Mizuho di Tokyo menolak berkomentar dan mengatakan bahwa perusahaan saat ini sedang membahas berbagai isu.

Sebelumnya, pada September lalu saingan Mizuho yakni UFJ Financial Group mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk mengurangi sekitar 9.500 pekerjaan, atau sekitar seperempat dari angkatan kerjanya, dalam waktu tujuh tahun.

Raksasa perbankan Sumitomo Mitsui pada Mei lalu juga mengatakan akan mengurangi 4.000 pekerja hingga Maret 2021 dan menggantinya pada teknologi atau robot.

Di masa depan robot2 akan menggantikan pekerjaan manusia. Itu tak bisa di hindari.