Hasil Survei, Ini Rambu-rambu Tempat Tidur yang Perlu Ditahu Suami Istri

0
9

Boleh jadi ini menjadi bahan koreksi buat istri. Hasil penelitian yang dihimpun menshealth, berikut beberapa rambu-rambu bercinta yang perlu diketahui suami istri ketika mendarat di tempat tidur.

Hasil survei 1: Ternyata pria Indonesia lebih sering merasa tidak puas pada pasangannya karena mereka menganggap pasangannya terlalu konservatif, enggan mencoba sesuatu yang baru dalam seks.

Hal ini mungkin dipengaruhi faktor budaya. Banyak pria kemudian menganggap pasangannya hanya sekedar menunaikan kewajiban mereka saat di atas tempat tidur, selain fakta bahwa setelah menikah atau melahirkan, wanita Indonesia kurang bisa merawat dirinya sehingga menjadi lebih gemuk.

Kondisi ini, barangkali, membuat pria lebih suka membayangkan wanita lain, justru saat sedang bercinta dengan pasangannya.

Tapi mungkin semua keburukan ini bermuara pada kesalahan Anda sendiri, Bung! Anda jorok, tidak mau membersihkan diri ketika hendak melakukan seks dengannya, dan membuat dia merasa terganggu ketika sedang bercinta.

Komunikasikan hal-hal yang Anda mau dan tanyakan pula apa keinginannya –karena seks adalah soal Anda dan si Dia (bukan salah satunya).

Hasil survei 2: Pria adalah makhluk yang suka menuntut, tidak pernah puas, egois, tapi kurang peka pada keinginan wanita. 

Memang benar, wanita Indonesia kebanyakan konservatif/tertutup pada seks, tapi apa jadinya jika prianya juga sebal jika wanitanya mulai membuka diri terhadap seks dengan bertanya ini-itu pada wanita lain? Apa yang Anda tutupi, Bung? Penis kecil, tidak terlalu tahan lama, kurang improvisasi, itu semua bisa diatasi.

Anda memang kurang romantis dan kurang bisa memahami perasaan wanita yang secara kodrat ingin dimanja.

Tak apalah mengalah sedikit demi tujuan yang lebih besar. Anda juga terlalu to the point, orientasinya selalu pada kelamin dan wajah, plus kenikmatan kelamin Anda sendiri. Dan kesalahan paling fatal yang dilakukan pria ketika sedang bercinta adalah mengatakan, ”Kamu sudah sampai?” ketika permainan sedang panas-panasnya.

Kalimat tersebut sangat mematikan, langsung membunuh gairah mereka saat itu juga –karena terasa mengintimidasi agar mereka cepat-cepat orgasme.

Kalimat serupa juga bisa membuat gairah pria turun karena merasa bahwa pasangannya kurang menikmati permainan, sekedar memenuhi kewajibannya saja, dan seolah menuntut Anda agar cepat-cepat ejakulasi.

Sebaiknya, mulai saat ini, perlakukan wanita bukan sebagai obyek, melainkan sebagai partner yang sangat menarik di atas ranjang.

Karena bahasa mereka bahasa perasaan, cobalah untuk lebih menggunakan perasaan, bukan cuma bahasa otot.

Hasil survei 3: Terbukti bahwa penetrasi bukanlah satu-satunya hal terpenting bagi wanita dalam seks.

Namun sebaliknya, pria lebih cenderung untuk langsung ke menu utama –penetrasi, dan malas foreplay, bahkan merasa terintimidasi untuk melakukan foreplay terlebih dahulu ketika hendak bercinta.

Dan kekurangpuasan itu semakin bertambah karena pria kerap mengabaikan keinginan wanita, sementara pria suka sekali bereksperimen dalam seks. Wanita juga cenderung lebih toleran pada kekurangan fisik pria, sementara pria sebaliknya.

Meski demikian, wanita kerap munafik karena merasa tidak ada yang salah pada diri mereka, padahal pria tahu ada sesuatu yang membuat wanita minder pada tubuh mereka sendiri.

Hal itulah yang membuat wanita canggung ketika melakukan hubungan intim.

Ingat, apakah tubuh Anda masih bau saat hendak bercinta? Atau, jangan kentut sembarangan, mengerang nikmat terlalu keras sehingga bisa didengar tetangga, menonton TV dan mengobrol terlalu panjang pascaseks, atau berkata bodoh,”kamu puas, kan?” pada pasangan Anda selama proses bercinta. Itu bisa membuat gairah turun drastis!

Hasil survey 4: Kebersihan menjadi hal yang penting bagi pria dan wanita di tempat tidur walaupun bukan menjadi hal yang paling utama

Wanita juga kurang menyukai pria yang merasa dirinya superior di atas ranjang, mendominasi, dan menganggap wanita sebagai boneka. Karena mungkin saja, menurut wanita hal ini sangat tidak fair –buktinya pria tidak ingin diperbandingan dengan apa pun! Hal ini mestinya menjadi berita bagus, bahwa sesungguhnya wanita pun ingin berperan dalam seks.

Jadi, biarkanlah sekali-kali mereka yang mengontrol Anda dan turuti kemauannya. Siapa tahu dengan membiarkannya seperti itu, mereka justru lebih terbuka soal seks dan lebih kreatif.

Barangkali, apa yang diinginkan wanita hanyalah membuat seks itu menjadi sesuatu yang indah, bukan sesuatu yang harus dilakukan 3X sehari, dan sekedar gerakan naik-turun tanpa makna. Karena wanita lebih menghargai kualitas ketimbang kuantitas.

Tapi menganggap seks adalah sesuatu yang amat sakral juga bisa membuat wanita menganggap Anda sebagai pria yang aneh