KARENA SAYA BUTA

0
8

Suatu hari Aku berjalan dibibir-bibir ladang disebuah desa yang indah, saat itu Aku melewati sebuah lapangan yang dimana seluruh anak-anak desa bermain disore hari yang cerah, namun mataku tertuju di sudut sana, disitu duduk serang gadis yang asyik menenun menghadap tawa teman-temannya yang sedang bermain, Aku menghampirinya dan mecoba membuka pembicaraan. Aku bertanya padanya, ”kenapa kamu sendiri disini dan tidak bergabung untuk bermain bersama teman temanmu gadis manis?” sambil tersenyum dia menjawab, “karena saya buta tuan,” hatiku langsung terenyuh ketika sadar bahwa gadis ini buta, akhirnya Aku mengalihkan pembicaraan lain karena pikirku tidak baik apabila Aku membicarakan keterbatasannya.
Sambil melihat hasil tenunannya Aku bertanya kepadanya sekali lagi, “wah tenunanmu ini kenapa indah sekali?” Sekali lagi gadis itu tersenyum dan menjawab, “karena saya buta tuan, setiap pagi, siang dan malam hari saya hanya dapat menenun hingga akhirnya saya tau apa yang bisa saya kerjakan, tenunan-tenunan ini akan saya berikan kepada adik adik saya dipanti asuhan, saya hanya bisa berharap setidaknya dengan apa yang saya miliki saat ini saya dapat memberikan manfaat pada orang lain”. Dari pengalaman itu Aku belajar bahwa karena dengan keterbatasan fisik orang-orang ini tidak menghabiskan waktunya hanya dengan bermain, dan dengan keterbatasan fisiknya pula mereka dapat menghasilkan sesuatu yang indah bahkan dapat bermanfaat bagi orang lain. Sungguh malu apabila kita yang dikaruniai oleh Tuhan sedemekian anugerah yang sempurna tidak dapat melakukan apa yang sebagian orang cacat lakukan bahkan beberapa diantara kita selalu mengeluh dengan apa yang Tuhan berikan pada kita, Pantaskah?

“Aku tidak selalu mendapatkan apa yang Aku sukai, maka dari itu Aku selalu menyukai yang Aku dapatkan”