Seperti Apa Dampak Bom Nuklir jika Dijatuhkan di Jakarta?

0
23

Seperti Apa Dampak Bom Nuklir jika Dijatuhkan di Jakarta?

 Hari ini 73 tahun lalu, tepatnya 6 Agustus 1945, pesawat pengebom B-29 milik AS menjatuhkan bom atom berjuluk Little Boy di kota Hiroshima, Jepang. Meski bernama Little Boy, dampak bom itu jauh dari ukuran kecil. Kota Hiroshima luluh lantak dan 140.000 orang tewas seketika, belum dihitung mereka yang tewas kemudian karena luka-luka dan pengaruh radiasi. Padahal, bom atom Little Boy itu “hanya” berkekuatan 15 kiloton, yang jika dibanding dengan persenjataan nuklir yang dimiliki beberapa negara saat ini, tentu terbilang amat kecil. Lalu bagaimana jika bom atom, setidaknya bom yang dijatuhkan di Hiroshima, dijatuhkan di sebuah kota modern saat ini.

Bayangkan jika sebuah bom berkekuatan 150 kiloton dijatuhkan di sebuah kota besar misalnya New York, London, Bangkok, atau Jakarta. “Kita hidup di masa ketika senjata nuklir menjadi pembicaraan sehari-hari. Meski demikian, banyak orang yang tidak menyadari dampak yang dihasilkan sebuah bom nuklir,” kata Alex Wellerstein, sejarawan sains dari Institut Teknologi Stevens, New Jersey, AS. Nah, untuk memahami seberapa besar dampak bom atom atau persenjataan nuklir lainnya, Wellerstein menciptakan aplikasi interaktif yang disebut Nukemap. Lewat aplikasi ini, pengguna bisa membayangkan atau mencoba “menjatuhkan” bom atom dengan berbagai ukuran di kota mana pun di dunia. Aplikasi ini juga menyediakan tampilan yang memperlihatkan dampak langsung jika sebuah bom nuklir dijatuhkan di sebuah kota. Pengguna aplikasi bisa mengetahui jumlah korban tewas, luka, hingga sebaran radiasi nuklir ke daerah sekitar lokasi jatuhnya bom. Kompas.com mencoba aplikasi Nukemap ini dan pertama dipilih kota New York, AS dengan bom berkekuatan setara dengan Little Boy atau 15 kiloton.

Menurut situs Wikipedia, pada 2017 penduduk kota berjuluk Big Apple itu sebanyak 8,6 juta jiwa. Jika bom atom Little Boy dijatuhkan di Central Park, maka sebanyak 233.200 orang akan tewas seketika dan 356.860 orang lainnya terluka. Dan, dalam 24 jam sebanyak lebih dari 1,2 juta orang warga New York akan terdampak. Nah, dampak bom atom tentu bukan hanya bagi mereka yang tewas atau terluka di sekitar “ground zero” tetapi juga warga lain di sekitarnya. Untuk bom atom berkekuatan 15 kiloton maka radius ledakannya akan sebesar 20 psi dan bisa dirasakan dalam area 340 meter persegi. Dalam tekanan 20 psi, gedung dengan dinding beton akan mengalami kerusakan parah atau sebagian hancur. Dan dalam radius ini tingkat kematian mencapai 100 persen.

Sementara radius radiasi langsung mencapai 1,2 kilometer sehingga korban jika tak menerima perawatan medis segera maka 50-90 persen dari mereka akan tewas. Proses kematian bisa memakan waktu beberapa jam hingga beberapa pekan. Dampak bom belum selesai, karena masih ada radiasi panas yang bisa mencapai jarak hampi 2 kilometer dan mengakibatkan luka bakar tingkat tiga. Bisa dibayangkan jika bom yang dijatuhkan di kota New York bom-bom nuklir masa kini yang berkekuatan bisa 10 kali lipat dari bom Hiroshima dan Nagasaki. Setelah mencoba “menghancurkan” New York, dengan bom Little Boy, Kompas.com mencoba simulasi ini di Jakarta. Namun, Kompas.com akan mencoba menggunakan B-83, yang menurut aplikasi Nukemap merupakan bom nuklir terbesar milik AS saat dengan kekuatan 1,2 megaton atau 1.200 kiloton. Jika bom raksasa ini dijatuhkan tepat di kawasan Monumen Nasional maka korban tewas diperkirakan mencapai 2.338.520 jiwa. Sementara korban luka diperkirakan tidak kurang dari 4,5 juta jiwa. Dan, warga di sekitar Monas, Kebon Sirih, Tugu Tani menjadi yang paling terdampak.

Sementara itu, dampak ledakan udara bisa mencapai kawasan Kelapa Gading, Rawangun, hingga sekitar Daan Mogot. Di kawasan ini sebagian besar kawasan permukiman hancur, korban luka para berjatuhan, dan korban tewas cukup banyak. Semua akibat dihantam gelombang udara berkekuatan 5 psi dampak dari ledakan bom. Sementara radiasi panas yang bisa menyebabkan minimal luka bakar tingkat tiga mencapai kawasan seluas 547 kilometer persegi. Radiasi panas ini bisa dirasakan warga yang tinggal di sekitar bandara Halim Perdanakusumah, Pondok Indah, Ciledug, hingga ke perairan Teluk Jakarta yang jaraknya rata-rata 13-14 kilometer dari pusat ledakan. Dampak lain yang tak kalah mengerikan adalah sebaran radiasi yang bisa menimpa warga dalam radius 1.390 kilometer persegi.

Artinya warga di wilayah selatan Jakarta, Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Bekasi akan terancam terkena radiasi nuklir. Celakanya, semua dampak yang dirasakan Jakarta dan sekitarnya itu jika bom tersebut meledak di ketinggian 3.320 meter dari permukaan laut. Jika bom itu meledak semakin dekat dengan daratan maka bisa dipastikan korban jiwa dan kerusakan akan semakin besar. Jika Anda berminat mencoba aplikasi ini silakan klik www.nuclearsecrecy.com/nukemap.