7 Fakta Baru Mahasiswi Malang yang Tewas di Jerman, Hasil Otopsi Bikin Keluarga Hanya Bisa Pasrah

0
17

7 Fakta Baru Mahasiswi Malang yang Tewas di Jerman, Hasil Otopsi Bikin Keluarga Hanya Bisa Pasrah

Berita duka datang dari seorang mahasiswi asal Malang, Indonesia yang meninggal di Jerman.

Warga Bandulan, Sukun, Kota Malang ini dikabarkan meninggal dunia di kampusnya yang ada di Jerman.

Shinta terdaftar sebagai mahasiswi jurusan Kedokteran di Universitas Leipzig, Jerman.

Kabarnya, Shinta meninggal di danau Trebgaster, Bavaria, pada Rabu (8/8/2018) lalu.

1. Kronologi

Kabarnya, Shinta meninggal di danau Trebgaster, Bavaria, pada Rabu (8/8/2018) lalu.

Melansir dari sebuah media di Jerman, Neue Presse Coburg, Shinta pergi bersama dua orang temannya untuk berenang di danau Trebgaster. .

Nahas, saat berenang, mahasiswi berusia 22 tahun itu hilang pada sekitar pukul 13.30 waktu setempat.

Merasa khawatir, teman Shinta kemudian melapor pada petugas untuk dilakukan pencarian di sepanjang danau seluas 68.000 meter persegi tersebut.

Dalam pencariannya petugas mengirimkan sebanyak lebuh dari 100 anggota penyelam untuk mencari Shinta.

Setelah berjam-jam dicari, Shinta ditemukan tewas pada Kamis (9/8/2018) pukul 16.00 waktu setempat.

Ia ditemukan 30 meter dari danau mengapung dengan menggunakan pakaian renangnya.

2. Kepulangan jenazah terkendala

Kepulangan jenazah mahasiswi asal Kota Malang yang kuliah di Jerman, Shinta Putri Dina Pertiwi dari Jerman ke Indonesia menemui kendala.

Pasalnya, biaya kepulangan Shinta harus ditanggung oleh keluarga, bukan oleh negara.

Kabar itu baru diterima keluarga almarhumah pada Senin siang dari Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Sontak saja, informasi itu mengagetkan pihak keluarga yang sebelumnya sudah mendapat informasi kepastian bahwa jenazah Shinta akan tiba pada Jumat pekan ini.

“Sebelumnya kami diberitahu, (baiay) pemulangan Shinta ditanggung oleh negara, tapi siang tadi dikabari tidak ditanggung,” ujar Umi Salamah, ibu Shinta, Senin (13/8/2018).

Umi juga sempat diberi harapan oleh Kemenlu kalau biaya kepulangan ditanggung negara. Namun syaratnya harus menyertakan surat keterangan tidak mampu.

Umi lantas menolak persyaratan itu karena ia merasa mampu.

Ia tidak ingin ‘menipu’ negara dengan alasan tidak mampu padahal mampu.

“Saya sebetulnya bisa, hanya saja kabar ini mendadak. Padahal sebelumnya saya baru saja kirim uang ke Shinta senilai 8 ribu Euro. Itu sekitar Rp 150 juta,” ungkapnya.

3. Keluarga pilih kumpulkan donasi

Umi pun memilih untuk membuka donasi di kitabisa.com daripada harus membuat surat pernyataan tidak mampu.

Donasi itu dibuat oleh anak ketiganya yaitu Helmy.

Helmy sebelumnya mencari informasi terkait biaya kepulangan melalui internet.

Hal itu ia lakukan karena tidak ada informasi resmi dari Kemenlu terkait prosedur pemulangan jenazah dan biaya yang harus ditanggung.

Hingga akhirnya, Helmy mendapat informasi kalau biaya pemulangan jenazah sebesar Rp 60 juta.

Referensi itu ia dapat dari pemberitaan tentang pemulangan jenazah mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Belanda pada 2012.

“Itu tahun 2012, tidak tahu kalau sekarang apakah naik atau tetap,” imbuh Umi.

Berdasarkan informasi itu, Helmy mematok nilai maksimal yaitu Rp 60 juta di kitabisa.com. Dalam waktu beberapa jam saja, target tercapai. Di sisi lain, hingga pukul 19.00, pihak Kemenlu belum memberikan informasi biaya pemulangan jenazah dari Jerman ke Indonesia.

Umi juga berencana meminta rekening dari Kemenlu agar transfer dari luar negeri bisa masuk ke Indonesia.

Banyak teman Shinta di Jerman yang kesusahan berdonasi karena harus menggunakan rekening Indonesia.

Dia juga tidak ingin kondisinya saat ini dimanfaatkan pihak lain.

Ia juga mendapat kabar kalau seorang ibu di Banten pernah tertipu miliaran rupiah dalam kasus serupa.

“Ibu itu anaknya temannya Shinta, sudah tiga anaknya meninggal di luar negeri dan tertipu oleh oknum yang mengatasnamakan pegawai Kemenlu,” paparnya.

Di tengah wawancara bersama Surya, Umi mendapatkan telpon dari pengurus PPI Jerman.

Suara dari sambungan telpon itu mengatakan kalau biasanya memang biaya pemulangan ke Indonesia tidak ditanggung oleh negara.

KJRI di tempat Shinta meninggal hanya mengurus prosedural administrasi.

4. Perhatian dari Ridwan Kamil

Di waktu yang hampir bersamaan, akun Instagram Helmy mendapatkan pesan masuk.

Pesan itu berasal dari Ridwan Kamil, Wali Kota Bandung yang terpilih sebagai Gubernur Jawa Barat. Dalam pesan pendek itu Emil, sapaan akrabnya bermaksud membantu biaya kepulangan jenazah Shinta.

“Ini ada pesan dari Pak Emil menanyakan biaya pemulangan,” kata Helmy.

Namun Helmy belum memberikan nilai pasti karena belum ada informasi resmi terkait jumlah biaya yang harus ditanggung.

Setelah mendapat kabar dari Emil, Umi lantas mengatakan kalau dari pihak Pemkot Malang, baru kerabatnya dari Disbudpar yang datang.

Ia juga sempat ditanya sejumlah rekannya terkait respon Walikota Malang.

Namun Umi mengatakan Plt Wali Kota Malang Sutiaji belum datang ke rumahnya.

Umi menegaskan akan berjuang sekuat tenaga untuk memulangkan putri satu-satunya itu.

Ia juga berharap ada perhatian serius dari pemerintah karena kepergian Shinta ke Jerman adalah bagian dari bentuk pengabdian.

“Ini anak berprestasi. Mereka juga berat kuliah di sana,” ujarnya.

Selanjutnya, dosen yang mengajar di Universitas Brawijaya dan IKIP Budi Utomo itu berharap ada kejelasan prosedur dan biaya agar keluarga tidak bingung.

“Kami butuh informasi SOP yang jelas agar para orang tua tidak menunggi terlalu lama. Karena tidak semua kaya, saya hanya PNS. Gaji juga pas-pasan. Mungkin tidak mudah kalau tiba-tiba harus ditarik uang,” tegasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang warga Kota Malang yang sedang kuliah di Universitas Bayreuth, Jerman dikabarkan meninggal dunia di danau kampus, Kamis (9/8/2018) waktu setempat. Korban adalah Shinta Putri Dina Pertiwi yang sedang menempuh kuliah di Universitas Bayreuth, Jerman. Shinta meninggal di Danau Trebgaster, Bavaria.

Shinta yang beralamat di Bandulan Gang 12, Sukun, Kota Malang ini sudah lima tahun tidak pulang ke Kota Malang. Ibu almarhumah, Umi Salamah saat ditemui di kediamannya menjelaskan, Shinta berkomitmen tidak pulang sebelum pendidikannya selesai.

“Dia memang komitmen tidak pulang sebelum kuliahnya tuntas,” ujar Umi, Minggu (12/8/2018).

Shinta menempuh pendidikan S1 di Universitas Leipzig.

Di sana ia mengambil jurusan kedokteran. Kemudian ia melanjutkan pendidikan spesialis forensik di Universitas Bayreuth. Ia salah satu siswa berprestasi yang mendapat beasiswa ke sana.

Menurut laporan dari media Jerman, Neue Presse Coburg, Shinta dilaporkan hilang sejak Rabu (8/8/2018) oleh dua orang temannya yang pergi bersama ke danau di dekat kampus.

Shinta saat itu sedang mandi di sebuah danau kampus.

Ia mandi bersama seorang rekannya yang berasal dari Maluku.

Pada sore hari, seorang temannya yang lain tidak bisa menemukan Shinta di sekitar danau.

Merasa khawatir, temannya itu kemudian memanggil Shinta dengan pengeras suara. Namun upaya itu juga tidak berhasil.

“Shinta tidak bisa ditemukan teman-temannya sehingga melapor ke pengawas danau untuk dibantu mencari. Semua peralatan canggih dikerahkan, mulai dari helikopter hingga kapal selam mini untuk mencari Shinta,” imbu Umi.

5. Kerahkan 100 personel untuk pencarian

Pencarian terus dilakukan hingga tengah malam, sebanyak 100 personel tim rescue dikerahkan. Meski dengan alat canggih seperti sonar deteksi, deteksi panas hingga kapal selam mini, namun jasad Shinta belum bisa ditemukan. Akhirnya pencarian tersebut harus terhenti pada Kamis pukul 1.00 setempat.

Pagi harinya, tim operasi kembali melanjutkan pencarian. Tim kesulitan mencari korban karena luasnya danau dengan panjang 680 meter dan lebar 220 meter tersebut. Belum lagi kedalamannya lebih dari empat meter.

Namun upaya keras tim penyelamat itu membuahkan hasil setelah menemukan korban sekitar 30 meter dari darat. Begitu ditemukan, jenazah sempat diidentifikasi sebelum seorang rekannya sesama mahasiswa memastikan kalau jenazah adalah Shinta. Korban kemudian dievakuasi dan diselidiki polisi setempat.

6. Satu-satunya lulusan SMAN 7 yang kuliah di luar negeri

Kepergian Shinta Putri Dina Pertiwi menyisakan duka tersendiri bagi gurunya, Agustina Dwi Astuti (57). Di mata Agustina, Shinta dikenal sebagai sosok yang cerdas dan berprestasi.

Almunus SMAN 7 Malang itu bahkan disebut-sebut oleh Agustina sebagai satu-satunya lulusan SMAN 7 yang kuliah di luar negeri.

“Sepanjang puluhan tahun mengajar di SMA ini, hanya dia yang bisa kuliah di luar negeri. Sebelumnya belum ada,” ujar Agustina saat ditemui di SMAN 7 Malang, Selasa (14/8/2018).

Agustina kembali menceritakan kenangaannya bersama Shinta. Agustina adalah guru Matematikanya Shinta di kelas 3 IPA.

“Anaknya cantik kecil seperti saya,” ungkap Agustina, Selasa (14/8/2018).

Bahkan Shinta pernah dijadikan tutor Matematika di kelas. Tugasnya membantu Agustina menyampaikan materi kepada siswa lainnya.

Agustina pernah mengatakan ke Shinta kalau ia ingin ada lulusan SMAN 7 yang menjadi dokter. Tak dinyana, keinginan Agustina itu terwujud ketika Shinta lolos beasiswa kuliah ke Jerman mengambil kedokteran di Universitas Leipzig.

“Karena kepandaiannya saya pernah cerita SMAN 7 kepingin siswanya jadi dokter. Saya doakan di antara kalian menjadi dokter. Begitu lulus, waktu itu ada beasiswa pengarahan, di antaranya Jerman. Terus ternyata lolos dan pilihannya ke sana,” katanya.

Agustina pun merasa bangga dan senang mendengar kabar itu. Ia tak henti-hentinya memotivasi Shinta.

“Saya tambahi motivasi itu. Saya doakan mudah-mudahan menjadi dokter. Akhirnya dia lulus dan pamitan dengan saya sebelum berangkat, aduh nak keturutan,” ujar Agustina.

Agustina juga berpesan agar Shinta berhati-hati di negeri orang. Ia berpesan tetap mempertahankan prestasi di Jerman.

“Saya punya keyakinan kalau Shinta bisa lulus tepat waktu. Dia anak yang cerdas,” tegasnya.

7. Hasil otopsi

Hasil otopsi tubuh Shinta Putri Dina Pertiwi, mahasiswi asal Kota Malang yang tewas di Jerman sudah keluar.

Keluarga Shinta mendapatkan informasi itu pada Selasa (14/8/2018) siang dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jerman.

Shinta meninggal murni kecelakaan. Setelah hasil otopsi keluar, jenazah segera diberangkatkan ke Indonesia. Diperkirakan tiba di Malang pada Kamis atau Jumat.

“Shinta murni tenggelam kata Mbak dari PPI. Kamis atau Jumat insya Allah jenazah tiba,” ujar Umi Salamah, ibu kandung Shinta, Selasa (14/8/2018).

Kata Umi, putrinya itu mengenakan pakaian renang busana muslim saat berenang. Pakaian renang itu dibeli dari Indonesia.

Keluarga perlahan mulai ikhlas dengan kepergian Shinta.

“Sekarang mulai ikhlas. Mudahan khusnul khatimah, jihad dan syahid. Putri saya meninggal saat menuntut ilmu. Itu jihad, itu yang menghibur saya,” tegasnya.